Kata Kota Kita: Kumpulan Cerpen Gramedia Writing Project

Kata Kota Kita: Kumpulan Cerpen Gramedia Writing Project

Dalam Kata Kota Kita, kita dibawa singgah dari Central Park di New York, purnama di Ankara, kemacetan di Jakarta, hingga indahnya Pantai Ora di Ambon. Dan seusai penjelajahan, kita dibuat tersenyum dan menyadari betapa kayanya kita sebagai manusia.Kota-kota dalam kumpulan cerpen ini memberikan suaranya, menguarkan aroma, dan menunjukkan pemandangan yang ditulis dengan bera...

DownloadRead Online
Title:Kata Kota Kita: Kumpulan Cerpen Gramedia Writing Project
Author:Ayu Rianna
Rating:
Edition Language:Indonesian

Kata Kota Kita: Kumpulan Cerpen Gramedia Writing Project Reviews

  • Olivia

    Kata Kota Kita memuat 17 cerita pendek (cerpen) yang membawa kita ke kisah dari masing-masing tempat. Saya cukup senang ketika mendapatkan kesempatan untuk membaca kumcer ini, dan ternyata saya bisa dibawa untuk menjelajahi ketujuh belas kisah dengan cepat. Saya tidak menyangka ketika sudah tiba di akhir kisah :)

    Berikut opini singkat saya akan 17 kisah pada buku ini...

    1. Ora (Ayu Rianna)

    Dengan membaca ini, saya dibawa ke Pantai Ora serta menyaksikan keindahannya. Ceritanya sendiri lumayan klasi

    Kata Kota Kita memuat 17 cerita pendek (cerpen) yang membawa kita ke kisah dari masing-masing tempat. Saya cukup senang ketika mendapatkan kesempatan untuk membaca kumcer ini, dan ternyata saya bisa dibawa untuk menjelajahi ketujuh belas kisah dengan cepat. Saya tidak menyangka ketika sudah tiba di akhir kisah :)

    Berikut opini singkat saya akan 17 kisah pada buku ini...

    1. Ora (Ayu Rianna)

    Dengan membaca ini, saya dibawa ke Pantai Ora serta menyaksikan keindahannya. Ceritanya sendiri lumayan klasik, namun endingnya cukup membuat saya mendecakan lidah (dalam arti bagus ;))

    2. Berlari ke Pulau Dewata (Cindy Pricilla)

    Sama seperti cerita sebelumnya, kali ini saya bisa merasakan keindahan Bali. Sayang, saya merasa idenya kurang matang ditambah penyelesaiannya kurang masuk akal saya. Tapi, saya suka nilai ceritanya.

    3. Ditelan Kerumunan (Djan Fraumi)

    Suka idenya tentang bus kota. Menurut saya simple tapi dalam. Namun, saya kurang bisa memahami tokoh Lindung. Saya malah merasakan keberadaannya tidak diperlukan karena tidak membawa perubahan berarti (apa ini menurut saya saja?) Gilang sangat manusiawi, umumnya tokoh yang begini harusnya dibenci, tapi saya suka Gilang, rasanya keberadaannya mewakili keadaan beberapa orang, hahaha.

    4. Cinta dan Secangkir Cokelat Hangat (Dwi Ratih Ramadhany)

    Termasuk ide cerita yang saya suka, ringan. Sempat penasaran dan bertanya-tanya akan siapa sosok "aku" Sayang penyelesaiannya bikin kesel campur sedih :")

    5. "Let the Good Times Roll!" (Emba Eff)

    Mengangkat tema keluarga yang cukup umum. Tapi saya suka. Kita bisa dibawa ke keramaian New Orleans dengan baik. Apalagi pesan ceritanya cukup dalam. Btw, saya merasa judulnya kurang cocok dengan ceritanya..

    6. Sparks (Emilya Kusnadi)

    Cerita yang super romantis! *silently-screaming

    Hanya sayang saja penyelesaiannya tidak cocok dengan saya :'( Seperti kata Ayuna sendiri, klise.

    7. Mamon, Cintaku Padamu (Idawati Zhang)

    Salah satu cerita yang menarik dan disaat bersamaan kejam /plak

    Ceritanya sendiri membuat saya penasaran dan tidak gampang ditebak. Hanya penyelesaiannya membuat hati miris.

    8. Sunflower (Lidya Renny Chrisnawaty)

    The endingggg.... Sangat tak terduga orz

    Masuk dalam cerita yang saya suka juga. Penulisnya bisa memainkan kata-kata.. Dari awal cerita simple tapi bikin ketagihan. Apalagi endingnya itu..Hohoho

    Source: here, edit by me

    9. Frau Traffea (Lily Marlina)

    Jujur, awalnya agak bingung sama ceritanya. Termasuk kedalam cerita yang bisa bikin saya merinding, hahaha...

    10. Asing (Marisa Jaya)

    Alurnya cepat (atau saya yang cepat bacanya?) Awal yang damai dan akhirnya yang tak terduga. Hanya saya merasa kota Milan tidak banyak terekspos di cerita ini.

    11. Bukan Sebuah Penyesalan (Orintha Lee)

    Saya suka bagaimana penulis menceritakan "kamu" saya suka penggunaan sudut pandangnya :)

    Hanya ceritanya cukup klasik.

    12. Pohon dan Cinta (Putra Zaman)

    Ada juga cerita tentang mitos :) Penyelesaiannya agak miris dan manis.

    13. Di Balik Tirai Rindu (Rizky Noviayanti)

    Fufufu.. Tipe cerita ini... Tetap saja bikin saya tidak menduga akhir ceritanya hingga hampir akhir cerita.

    14. Bulungan (Tj.Oetoro)

    Penempatan ceritanya mesti diubah menurut saya, karena tipenya sama kayak cerita sebelumnya. Tapi ini merupakan salah satu cerita yang saya suka. Nilai cerita dapat dan tema cerita saya suka :)

    15. Ankara di Bawah Purnama (Tsaki Daruchi)

    Termasuk kedalam cerita yang saya tidak bisa duga. Saya suka pengibaratannya. Endingnya miris juga membuat hati sedih.

    16. Jakarta (Yatzhiar Nao)

    Ceritanya klasik dan saya rasa kurang dibangun dengan baik. Tapi saya suka dengan endingnya yang manis.

    17. Amerta (Yuliskha Elvitri)

    Salah satu cerpen yang bikin kita menduga-duga, tapi untuk saya, dugaan saya salah.. hahaha

    Sungguh menyenangkan bisa dapat kesempatan untuk membaca kumpulan cerpen ini. Semoga saja untuk kedepannya GWP bisa menghasilkan karya-karya lain yang menarik untuk dibaca ;)

  • ABO

    Buku kumpulan cerpen ini merupakan karya keroyokan 17 penulis pendatang baru yang merupakan penulis terpilih pada Gramedia Writing Project Batch 1. Bagi yang belum tahu apa itu Gramedia Writing Project atau biasa disingkat GWP, yaitu seleksi pencarian bakat penulis, dimulai sejak tahun 2013 oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama.

    Beberapa penulis yang berkontribusi di dalam buku ini bisa dibilang ada yang sudah saya kenal walau tidak secara langsung. A

    Buku kumpulan cerpen ini merupakan karya keroyokan 17 penulis pendatang baru yang merupakan penulis terpilih pada Gramedia Writing Project Batch 1. Bagi yang belum tahu apa itu Gramedia Writing Project atau biasa disingkat GWP, yaitu seleksi pencarian bakat penulis, dimulai sejak tahun 2013 oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama.

    Beberapa penulis yang berkontribusi di dalam buku ini bisa dibilang ada yang sudah saya kenal walau tidak secara langsung. Ada yang saling follow-follow-an dan berbalas mention di twitter. Ada yang sama-sama anggota BBI. Ada pula yang sering saya kunjungi blog, akun wattpad, atau akun gwp mereka. Mungkin itu juga yang menjadi salah satu faktor yang membuat saya tertarik untuk membaca buku ini.

    Karena rasanya tidak adil kalau di review ini saya hanya membahas cerpen-cerpen yang saya suka, dan karena hampir semua cerpennya favorit saya, rasanya nanggung jika tidak saya bahas satu per satu :D

    Dibuka dengan cerpen klise, tapi ditulis dengan baik. Di cerpen ini penulis berhasil membawa saya ikut menikmati suasana Pantai Ora yang terkenal dengan keindahannya itu.

    Berbeda dengan cerpen pertama yang agak serius, cerpen kedua ditulis dengan gaya kocak dan menggelitik. Bukan termasuk yang ‘wah’, tapi cukup menghibur.

    Aneh. Dialog antar tokohnya nyeleneh. Apalagi dialog karakter Lindung. Kalau saya yang jadi Raga, pasti udah rada takut deh sama si Lindung ini x)). Gaya ngomongnya ... nggak seperti gaya bahasa yang dipakai orang pada umumnya. Sebenarnya isu yang berusaha diangkat penulis cukup menarik, cuma mengemas isu tersebut yang kurang. Terus menurut saya sik, sudut pandang yang dipakai kan sudut pandang orang pertama, tapi saya ngerasanya kayak baca dari sudut pandang orang ketiga.

    Rada maksa. Di awal saya pikir bakal menarik, karena saya mengira sudut pandang yang digunakan melalui sebuah benda di dalam atau di luar kafe. Ternyata si aku-nya adalah kota Malang itu sendiri -___-. Lagian si aku-nya ini maksa bener ngejodohin (lagi) Larisa sama Ragil. Sampe saya jadi kasian sama Gilang :(. Just not my cup of tea, I guess :))

    Cerpen dengan pesan moral yang baik. Saya suka!

    Udah baca Romansick? Nah cerpen ini bisa dibilang spin-off dari novel tersebut. Saya tidak akan membocorkan ceritanya, yang jelas saya sukak pake banget! Feels-nya itu loh, bisa tersampaikan dengan baik. Jadi ikutan patah hati :(. Dan judulnya, kok bisa sik mbak Emilya kepikiran judul catchy macam Romansick dan Sparks? Buat mbak Emilya, saya jadi penasaran dengan tulisan-tulisanmu selanjutnya, ditunggu yaa ;))

    I love love this short story. Berbeda dengan cerpen-cerpen sebelumnya, di sini penulis menuturkan kisah yang lebih dewasa dan ber-genre drama keluarga. Yang saya suka adalah bagaimana cara mbak Idawati*sok kenal* membuat kalimat di awal nantinya akan berhubungan dengan kalimat di akhir cerita.

    Kisah yang manis getir. Cukup oke walau saya sudah bisa menebak akan ke mana arah ceritanya bergulir.

    Di awal cerpen ini terasa menjanjikan, mengambil tema besar tentang misteri menyeramkan di Prancis tahun 1518. Cuma mengecewakan di akhir karena ending-nya yang ‘gitu doang’. Mungkin salah saya juga yang berekspektasi terlalu tinggi. Tapi serius, saya mengharapkan ending yang lebih ‘nendang’. Dan saya percaya kalau penulisnya bisa melakukan yang lebih baik lagi. Sayang sekali.

    Unexpected! One of my favorites ;))

    Kagum dengan kelihaian Orin dalam penggunaan sudut pandang cerpen ini, dan hal tersebut bikin rasa penasaran saya meningkat.

    Saya suka cerpen ini bukan karena faktor Palembang-nya loh ya ;)) kisahnya sederhana tapi ngena banget. Apalagi ending-nya.

    Cerpen yang memainkan perasaan saya. Tapi saya tidak bisa menerima twist-nya begitu saja. Sedikit kurang masuk akal.

    Agak mirip dengan cerpen sebelumnya, tapi yang ini twist-nya cukup bisa diterima.

    Mindblowing adalah kata yang tepat untuk menggambarkan cerpen ini. Pertanyaan-pertanyaan yang timbul pun terjawab semua di akhir. Saya langsung bengong seketika setelah mengetahui semua fakta mengejutkan yang sebelumnya berhasil disimpan sang penulis rapat-rapat. Well done, Tha! :D

    Saya bingung dengan apa sebenarnya yang ingin disampaikan penulis lewat cerpen ini. Bahwa perselingkuhan itu bisa juga berakhir manis? -__- bukan favorit saya, mungkin cuma masalah selera.

    Menegangkan di sepanjang cerita, tapi lagi-lagi agak kecewa dengan ending-nya. Judul yang dipilih menarik, saya langsung googling kata “amerta” yang ternyata berarti “ketidakmatian, tidak dapat mati, abadi”. Cocok dengan apa yang dikisahkan di cerpen.

    Pujian pertama harus saya berikan pada Gramedia Pustaka Utama dengan project GWP-nya. Menurut saya ajang pencarian menemukan bakat-bakat penulis baru dan membantu mengembangkan potensi mereka patut diapresiasi. Indonesia butuh lebih banyak penulis berkualitas lagi untuk semakin memajukan dunia perbukuan kita. Dan saya melihat banyak potensi dari penulis-penulis yang berkontribusi dalam kumpulan cerpen ini.

    Pujian selanjutnya buat yang mendesain kavernya. Juga buat para editor yang telah melakukan pekerjaannya dengan baik. Yah, walaupun tidak sepenuhnya sempurna karena masih ditemukan beberapa typo, tapi overall bukunya rapi.

    Pujian terakhir tentu saja buat ke-17 penulis buku ini. Seperti yang saya bilang tadi, mereka sangat berpotensi untuk bisa menjadi the next Indonesian Idol penulis idola di Indonesia.

    review ini juga di-post

  • Idawati Zhang

    Akhirnya bisa baca, setelah sibuk di RS berhari-hari :). Beda dengan kumcer Dunia Di Dalam Mata dulu yang warnanya senada, kali ini tipe ceritanya benar-benar bervariasi. Ada yang mellow, romantis, drama, bikin mau muntah (macam kalau nonton serial Hanniba), dark, horor, dll. Cerpen saya sendiri termasuk yang... hmmm... wah nggak jelas juga hahaha... Pastinya, ketika kamu membuka lembar berikut, kamu tidak akan bisa menduga cerita rasa apa yang bakal kamu kecap :).

    4 bintang, diramu dari segi co

    Akhirnya bisa baca, setelah sibuk di RS berhari-hari :). Beda dengan kumcer Dunia Di Dalam Mata dulu yang warnanya senada, kali ini tipe ceritanya benar-benar bervariasi. Ada yang mellow, romantis, drama, bikin mau muntah (macam kalau nonton serial Hanniba), dark, horor, dll. Cerpen saya sendiri termasuk yang... hmmm... wah nggak jelas juga hahaha... Pastinya, ketika kamu membuka lembar berikut, kamu tidak akan bisa menduga cerita rasa apa yang bakal kamu kecap :).

    4 bintang, diramu dari segi cover yang apik banget buat saya, disain halaman dalam, cerita yang ada, dan tentunya fakta kalau saya merasa sangat beruntung bisa bersanding dengan penulis-penulis canggih di sini, di bawah bendera penerbit yang menemani saya tumbuh sejak kecil. Bias? Ah, bukankah penilaian terhadap sebuah karya seni itu selalu bias? :)

  • Michelle

    Surprisingly, I love this book.

    Pertama, gue kira akan seperti kumcer encer yang biasanya cuma 1-3 cerita aja yang bagus, sementara sisanya sih pemanis aja buat tebel cerita.

    Tapi ini tidak.

    Gue suka dari gaya menulis yang beda abis di tiap pengarangnya. Like I have to wait the new "adventure" in every story.

    And I give Kata Kota Kita 3.5 stars.

  • Putri Review

    Yang saya suka dari buku kumcer keroyokan adalah, saya seakan melihat katalog penulis2 muda yang nantinya mungkin akan menjadi penulis favorit saya di masa depan. Novel ini seakan memfasilitasi pembacanya untuk membandingkan dan menimbang, sekaligus ikut mempelajari teknik menulis dan gaya menulis yang berbeda-beda.

    Saya lumayan suka dengan ide menulis berlatarkan kota-kota di seluruh dunia. Kalaupun ada yang sedikit mengganjal adalah, saya menyayangkan beberapa penulis yang memilih latar kota ya

    Yang saya suka dari buku kumcer keroyokan adalah, saya seakan melihat katalog penulis2 muda yang nantinya mungkin akan menjadi penulis favorit saya di masa depan. Novel ini seakan memfasilitasi pembacanya untuk membandingkan dan menimbang, sekaligus ikut mempelajari teknik menulis dan gaya menulis yang berbeda-beda.

    Saya lumayan suka dengan ide menulis berlatarkan kota-kota di seluruh dunia. Kalaupun ada yang sedikit mengganjal adalah, saya menyayangkan beberapa penulis yang memilih latar kota yang sama. Memang, ini bukanlah kekurangan yang vital karena saya tahu banyak bagian kota yang bisa dieksplor. Tapi saya rasa akan lebih bagus kalau setiap penulis benar2 mengambil latar yang berbeda, juga dibatasi dalam satu negara, atau benar2 kota di seluruh benua.

    Gara2 novel ini saya juga belajar bahwa ada banyak ide cerita yang bisa dieksplor berdasarkan suatu tempat. Bisa sisi wisatanya, kondisi di masa sekarang, sampai sejarah yang pernah terjadi di tempat tersebut.

    Berikut adalah 5 cerpen personal favorite saya dari novel kumcer "Kata Kota Kita :

    "Bulungan" karya TJ Oetoro, berlatar Jakarta. Saya tak akan bisa melihat area Bulungan dengan cara yang sama lagi.

    "Amerta" karya Yulikha Elvitri, berlatar Banjarnegara. Aura thriller-nya terasa, suka sekali :D

    "Frau Traffea" karya Lily Marlina, berlatar Strasbourg. Endingnya terasa terburu2, tapi masih oke.

    "Mamon, Cintaku Padamu" karya Idawati Zhang, berlatar Semarang. Untuk cerita pendek, kisahnya lumayan meninggalkan bekas.

    "Ankara di Bawah Purnama" karya Tsaki Daruchi, berlatar Ankara. Saya suka dengan perumpamaan : Aroma Rempah, Mata Maskulin dan Kopi Jantan.

    Baca lebih lengkap review novel ini di blog

  • Daniel

    Cerita dengan latar tempat yang kuat selalu menjadi mimpi basah buat saya. Kemampuan seorang penulis meramu sebuah cerita dan meleburkannya bersama dengan setting yang kuat diuji di sini. Saya sejujurnya berharap banyak dari kumpulan cerpen ini, saya mengharapkan latar tempat yang kuat yang nggak cuman diselipkan begitu aja. Setelah membaca buku ini, beberapa cerita

    , beberapa yang lain

    .

    Saya repiu singkat per cerita ya.

    1. Ora - Ayu Rianna

    Cerita ini diawali dengan sebuah cerpen romantis

    Cerita dengan latar tempat yang kuat selalu menjadi mimpi basah buat saya. Kemampuan seorang penulis meramu sebuah cerita dan meleburkannya bersama dengan setting yang kuat diuji di sini. Saya sejujurnya berharap banyak dari kumpulan cerpen ini, saya mengharapkan latar tempat yang kuat yang nggak cuman diselipkan begitu aja. Setelah membaca buku ini, beberapa cerita

    , beberapa yang lain

    .

    Saya repiu singkat per cerita ya.

    1. Ora - Ayu Rianna

    Cerita ini diawali dengan sebuah cerpen romantis yang mengambil latar tempat di Ambon, Maluku. Saya mengharapkan sebuh cerita yang bisa membuka pikiran saya akan suatu kehidupan penduduk Maluku, atau kebudayaan Maluku, tetapi saya merasa cerita ini seperti cerita Jakarta ala-ala yang latarnya di Maluku. Konfliknya belum terasa (kalau tidak mau dibilang tidak ada) menghasilkan ending cerita yang menggantung. (2/5)

    2. Berlari ke Pulau Dewata - Cindy Pricilla

    Bagian yang mengganggu saya adalah karakternya yang sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang yang baru bertemu bisa mengulik-ulik kehidupan pribadi orang lain? Dan sama seperti sebelumnya, konfliknya nyaris tidak terasa, kecuali kalau putus dan marah adalah suatu konflik, sehingga menghasilkan ending cerita yang tergesa-gesa. (1,5/5)

    3. Ditelan Kerumunan - Djan Fraumi

    Saya sejujurnya enggak ngerti maksud cerita ini apa. Yang saya tangkap, Ditelan Kerumunan hanya menceritakan satu pengalaman seorang cowok naik bus kota,

    . Narasinya cukup mendetail, tetapi malah jatuhnya sedikit tidak fokus, misalnya waktu tiba-tiba ada narasi soal cara memotong botol Aqua untuk tempat menampung uang pengamen. Saya cuman senyum-senyum aja. (1,5/5)

    4. Cinta dan Secangkir Cokelat Hangat - Dwi Ratih Ramadhany

    Menarik sekali membaca cerita dengan narator nonmanusia, dan Mbak Dwi melakukannya dengan baik. Gaya narasinya yang cantik biasanya bukan cangkir teh saya, sih, tetapi saya cukup lumayan bisa menikmatinya. Satu hal yang kurang memuaskan hanyalah ending-nya yang kurang gereget. Ini salah satu cerita yang latarnya

    buat saya. (2,5/5)

    5. Let the Good Times Roll - Emha Eff

    Buat saya, cerita ini adalah cerita yang latarnya berhasil mengenai

    harapan saya. Deskripsi New Orleans-nya terasa, dengan gaya berbahasa yang pas banget dengan kesukaan saya. Sayangnya, konfliknya cukup sering dipakai, dan kurang nge-

    . (4/5)

    6. Sparks - Emilya Kusnadi

    Sparks ini bagus, tetapi mungkin kurang berkesan bagi saya. Latar New York yang digunakan hanya mengambil bagian Central Park saja. Manis sekaligus sedih, tetapi ya udah begitu saja. (2,5/5)

    7. Mamon, Cintaku Padamu - Idawati Zhang

    Dari segi latar, ini

    menurut saya karena ceritanya sendiri bisa terjadi di kota mana pun. Namun, ceritanya benar-benar bagus dan saya suka sekali dengan

    -nya yang menohok. (3,5/5)

    8. Sunflower - Lidya Renny Chrisnawaty

    Ini mungkin cerita terfavorit saya di buku ini. Saya bukan orang yang gampang ketipu dengan

    yang disebar oleh penulis, tetapi ketika Mbak Lidya memberi

    yang jelas-jelas mencolok, saya dengan suksesnya langsung ketipu dengan

    -nya. Saya sudah sering baca cerita semacam ini, tetapi baru kali ini saya ketipu. Ini membuktikan bahwa tidak perlu ide yang heboh untuk bikin cerita yang bagus. (4,5/5)

    9. Frau Traffea - Lily Marlina

    Frau Traffea ini menarik sekali karena mengambil tema mengenai wabah menari yang terjadi di Perancis tahun 1518. Saya sudah cukup sering membaca soal wabah yang sampai sekarang masih misteri ini, tetapi baru pertama kali saya tahu kalau yang memulai wabah itu adalah Frau Traffea. Deskripsi latarnya bagus dan kesan seramnya juga dapat. (3,5/5)

    10. Asing - Marisa Jaya

    Sama dengan Mamon sebelumnya, buat saya latarnya masih

    karena kejadian ini bisa terjadi di kota mana pun. Meski gaya berceritanya lancar, saya belum bisa menemukan sesuatu yang spesial dari cerita ini. Ending yang dibuat sedemikian rupa belum berhasil membuat saya terperanjat. (2,5/5)

    11. Bukan Sebuah Penyesalan - Orinthia Lee

    Latarnya

    buat saya karena bisa terjadi di mana saja. Cukup suka dengan sudut pandang orang ketiga, dengan kata ganti dia dan kamu, yang dipakai oleh penulis. Akhir ceritanya lumayan muncul

    . (2,5/5)

    12. Pohon dan Cinta - Putra Zaman

    Cerita yang lumayan ringan dan latarnya

    . Ide ceritanya sangat sederhana, tetapi Mas Putra menulisnya dengan baik dan akhir ceritanya cukup manis. (3/5)

    13. Di Balik Tirai Rindu - Rizky Noviyanti

    Cukup nyesek, ya, dan lumayan gelap. Akhir ceritanya lumayan

    dan

    membuat saya enggak menyangka bakalan seperti itu. (3/5)

    14. Bulungan - Tj Oetoro

    Seandainya saja Bulungan ini diletakkan sebelum Di Balik Tirai Rindu, saya bakalan kagum. Namun, akhir cerita yang mirip dan diletakkan secara

    macam ini membuat saya biasa saja jadinya. (3/5)

    15. Ankara di Bawah Purnama - Tsaki Daruchi

    Cukup berani meski saya tidak merasakan sesuatu yang spesial dari cerita ini. Bukan penggemar gaya bahasa cantik semacam ini, tetapi diksinya sangat kaya, dan alur ceritanya lumayan

    . (3/5)

    16. Jakarta - Yatzhiar Nao

    Hmmm... Yang ini sebetulnya juga tidak meninggalkan kesan yang mendalam buat saya. Ceritanya rapi, latarnya lumayan

    , tetapi konfliknya hanya sejenak, dan penyelesaiannya begitu saja. (2,5/5)

    17. Amerta - Yulikha Elvitri

    Cerita ini sakit. Menyenangkan sekali membaca cerita dengan latar sebuah kota kecil seperti ini, dan latar tempatnya

    buat saya apalagi dengan tipe cerita drama prosedural polisi macam ginian. Saya suka bagian

    -nya, membuat pembaca curiga akan satu karakter. Namun, penulis berhasil membuat pembaca bingung selama perjalanan membaca untuk menebak jawaban yang sebenarnya. (4/5)

    Waktunya untuk merata-rata.

    (2 + 1,5 + 1,5 + 2,5 + 4 + 2,5 + 3,5 + 4,5 + 3,5 + 2,5 + 2,5 + 3 + 3 + 3 + 3 + 2,5 + 4)/17 = 49 / 17 = 2,88.

    Saya bulatkan ke atas deh, karena lagi baik hati <3

  • Anidos

    Let me first type down GPU's short stories I've read before. Autumn Once More. Little Stories. Cerita Cinta Indonesia. Can't lie that few titles within them three were quite good, but none of them was quite remarkable as a book. Yet I'm not giving up on such book from the same publisher, yet I gave this one a shot.

    Yet, sadly, it tastes the same. Seventeen short stories, only two top-notch titles--'Sparks' by Emilya Kusnaidi and 'Bulungan' by TJ Oetoro.

    'Sparks' got writing style that I could easi

    Let me first type down GPU's short stories I've read before. Autumn Once More. Little Stories. Cerita Cinta Indonesia. Can't lie that few titles within them three were quite good, but none of them was quite remarkable as a book. Yet I'm not giving up on such book from the same publisher, yet I gave this one a shot.

    Yet, sadly, it tastes the same. Seventeen short stories, only two top-notch titles--'Sparks' by Emilya Kusnaidi and 'Bulungan' by TJ Oetoro.

    'Sparks' got writing style that I could easily digest and storyline which I could easily relate. Metropop-ish with transferable feelings, for short. If there's a thing I need to complain, it's that I didn't grasp the glimpse of New York City. I'm so gonna read 'Romansick', its author solo novel. Then, I love 'Bulungan', a shortie inspired by true event--the old SMA IX and SMA XI rivalry, now known as SMAN 70 Jakarta. The setting was my playground, how could I not have chills all over my body along the story! I'd probably have cried at its flashback if only I didn't read it on the Commuter Line. It's just got cheated by where it's placed--the story before this one got similar twist. Too bad. And talking about positioning, the last story was totally misplaced--it made me feel terrified instead of warm when I reached the final page.

    Others were mostly okay, few were meh. As a book of short stories that's supposed to tell us about cities, I couldn't say that this one worked. Many of these titles didn't give me quite insight about the city the stories took place--even in 'Sparks'. Therefore I gotta give credits to 'Ora' by Ayu Rianna and 'Cinta dan Daun' by Putra Zaman for succeeding at writing an original, irreplaceable setting. And to 'Bulungan', for sure.

    Overall, it tastes like Cerita Cinta Indonesia only with authors whose name I barely knew--not that it's a bad thing, tho. And because I gave that book three stars, I'll give this one the same amount of light.

    Ps: Please authors, "I nodded, but then I realised that he can't see me" kind of wording (at phonecalls) is way too overused....

    Pps: Emha Eff, for the form you're using within your lines, it's chérie, not chère. De rien.

    Ppps: Tsaki Daruchi, uh-oh. Your choice of words made me feel stupid af.

  • Rido Arbain

    Kata Kota Kita berisi 17 cerpen dengan setting berbagai kota (dalam dan luar negeri). Walau ada beberapa cerpen yang setting-nya sama dan cuma formalitas, tapi namanya karya fiksi tetap dinilai dari ceritanya. Tapi, aku mau nilai satu-satu sesuai pengetahuan dan selera.

    1. Ora

    Sebenarnya ini cerita ironis, tapi ditulis dengan manis. Bacanya kayak lagi nonton film pendek atau potongan FTV.

    2. Berlari ke Pulau Dewata

    Aku nggak bisa terima logika ceritanya. Sedekat-dekatnya seorang teman, kayaknya ngg

    Kata Kota Kita berisi 17 cerpen dengan setting berbagai kota (dalam dan luar negeri). Walau ada beberapa cerpen yang setting-nya sama dan cuma formalitas, tapi namanya karya fiksi tetap dinilai dari ceritanya. Tapi, aku mau nilai satu-satu sesuai pengetahuan dan selera.

    1. Ora

    Sebenarnya ini cerita ironis, tapi ditulis dengan manis. Bacanya kayak lagi nonton film pendek atau potongan FTV.

    2. Berlari ke Pulau Dewata

    Aku nggak bisa terima logika ceritanya. Sedekat-dekatnya seorang teman, kayaknya nggak mungkin sampai bela-belain terbang dari Jakarta ke Bali cuma buat menenangkan temannya yang lagi patah hati dan liburan ke Pulau Dewata. Cuma liburan. Sahabat sejati? Meh. Terus nongol stranger cowok yang sok asyik dan ujug-ujug menasihati si cewek patah hati. Aduh.

    3. Ditelan Kerumunan

    Sorry to say, tapi baca cerpen ini rasanya buang-buang waktu. Narasi panjang dan deskripsi suasana bus yang detail, tapi nggak ada 'pesan' apa-apa sampai ending. Ending = judul. Udah.

    4. Cinta dan Secangkir Cokelat Hangat

    Sebenarnya gaya bertutur penulis bagus. Pengambilan sudut pandangnya juga beda dari cerpen lain. Tapi, konflik antar tokohnya agak maksa.

    5. Let The Good Time Roll!

    Suka! Gaya bercerita penulisnya asyik, tipe-tipe bahasa terjemahan, dan setting ceritanya kuat. Moral value-nya juga sampai ke pembaca. Favorit!

    6. Sparks

    Kesannya hampir sama kayak cerpen Ora, ironis tapi manis. Cocok buat yang suka tulisan-tulisan sendu. Dan, aku suka.

    7. Mamon, Cintaku Padamu!

    Salah satu cerpen favorit, walau setting ceritanya nggak ngaruh. Premisnya bagus.

    8. Sunflower

    Deskripsi suasana kotanya visual. Bacanya kayak benar-banar lagi di Jogja. Plot twist-nya harusnya mudah ditebak, tapi aku malah nggak nebak dari awal.

    9. Frau Traffea

    (loading)

    10. Asing

    Ceritanya agak thriller. Lumayan suka.

    11. Bukan Sebuah Penyesalan

    Suka pemilihan PoV yang unik, sudut pandang orang kedua serba tahu (iya bukan, ya?). Ceritanya bagus, tapi kurang sreg sama dialog tokohnya.

    12. Pohon dan Cinta

    Mungkin cerpen ini yang setting kotanya paling kuat. Harusnya cerita ini bagus kalau klimaksnya nggak terburu-buru.

    13. Di Balik Tirai Rindu

    (loading)

    14. Bulungan

    Suka ide cerita dan gaya tulisannya. Plot twist-nya juga bisa diterima walau agak maksa.

    15. Ankara di Bawah Purnama

    Favorit! Cerita paling beda dari yang lain. Mindblowing. Stensil. Diksinya keren.

    16. Jakarta

    (loading)

    17. Amerta

    Bagus! Kalau dikembangin jadi novel thriller-misteri, kayaknya bakal keren.

    Secara keseluruhan, not bad.

  • Cindy Pricilla

    Senang rasanya bisa satu buku sama kalian semua, penulis Gramedia Writing Project batch 1. :)

    Cerpen-cerpen dalam buku Kata Kota Kita ini keren-keren, ditulis dengan beragam tema dan beraneka gaya. Kadang buat senyum-senyum sendiri, kadang buat melongo di akhir cerita karena twist-nya yang nggak tertebak.

    Btw, cerpenku berjudul Berlari ke Pulau Dewata ada di hal.27. Ceritanya tentang patah hati dan bertemu dengan orang baru. Selamat membaca! ;)

  • Emilya Kusnaidi

    Akhirnya selesai baca buku ini!

    Kumcer Kata Kota Kita ini merupakan kumcer bertema Kota, yang ditulis oleh 17 finalis GWP (Gramedia Writing Project). Buat yang belum tau apa itu GWP, GWP itu adalah ajang pencarian bakat penulis baru yang diadakan oleh GPU pada tahun 2014 lalu.

    Menurut saya sendiri, kumcer ini seperti tulisan eksperimental para penulisnya. Memang ada beberapa penulis yang tetep stick to the root, alias menulis cerpen dengan genre tulisan mereka yang biasanya. Tapi nggak sedikit ju

    Akhirnya selesai baca buku ini!

    Kumcer Kata Kota Kita ini merupakan kumcer bertema Kota, yang ditulis oleh 17 finalis GWP (Gramedia Writing Project). Buat yang belum tau apa itu GWP, GWP itu adalah ajang pencarian bakat penulis baru yang diadakan oleh GPU pada tahun 2014 lalu.

    Menurut saya sendiri, kumcer ini seperti tulisan eksperimental para penulisnya. Memang ada beberapa penulis yang tetep stick to the root, alias menulis cerpen dengan genre tulisan mereka yang biasanya. Tapi nggak sedikit juga yang malahan nulis cerpen dengan genre yang berbeda dengan tulisan mereka biasanya. Overall, semuanya bagus (meskipun, yeah, saya pasti bias, hahaha). Tapi ada beberapa sih yang jadi favorit saya, to name a few;

    1.Mamon, Cintaku Padamu by Idawati Zhang

    Sejak awal suka dengan tulisan Idawati Zhang yang ngepop abis. Tapi di cerpennya kali ini, tulisan penulis terasa lebih dewasa, matang dan riil. Porsinya terasa pas untuk ukuran sebuah cerpen. Ngingetin sama tulisannya Clara Ng. Endingnya juga memuaskan, meskipun biasanya saya nggak suka ending kayak begini :p

    2.Ankara di Bawah Purnama by Tsaki Daruchi

    Saya mengenal tulisan Tsaki Daruchi dari blog dan wattpad-nya. Dan, dengan tulisannya yang young adult banget itu, saya kaget penulis bisa bikin cerpen yang beda. Kali ini tulisannya lumayan ‘nyastra’ dengan plot twist yang nggak ketebak.

    3.Ora by Ayu Rianna

    Seperti biasa, tulisan Ayu Rianna selalu manis dan krinyis-krinyis. Suka dengan interaksi dan chemistry diantara dua tokoh utamanya. Khas Metropop banget, meskipun nggak bersetting di kota metropolis. Latar yang dibangun juga asyik banget, keren karena bisa kepikiran memilih setting yang nggak biasa :3

    Eh, tapi meskipun yang lain nggak saya sebut, bukan berarti yang lain nggak bagus ya. Hanya saja tiga cerpen ini yang ngena di hati saya :D

    Ps. Sengaja nggak nge-rate supaya nggak bias. Abisnya ada tulisan saya juga sih, haha.

WISE BOOK is in no way intended to support illegal activity. Use it at your risk. We uses Search API to find books/manuals but doesn´t host any files. All document files are the property of their respective owners. Please respect the publisher and the author for their copyrighted creations. If you find documents that should not be here please report them


©2018 WISE BOOK - All rights reserved.