Romansick

Romansick

Her life was almost perfect. Pekerjaan sebagai editor di majalah fashion ternama, rekan kerja yang baik hati meskipun doyan gosip, serta dua sahabat cowok yang selalu ada ketika dibutuhkan. So what a girl could ask for more? Well, please underline the ‘almost’ part.Audrey ‘Dre’ Kahono jatuh cinta setengah mati dengan Eren,sahabatnya––namun nggak pernah punya keberanian unt...

DownloadRead Online
Title:Romansick
Author:Emilya Kusnaidi
Rating:
Edition Language:Indonesian

Romansick Reviews

  • Ahmad Alkadri

    Terakhir kali saya membaca novel metropop adalah lebih dari setahun yang lalu, dan seringkali, saya menyesal karena tidak membeli lebih banyak lagi buku-buku dengan kategori genre tersebut. Mungkin fakta bahwa saya rada

    turut berpartisipasi pada kesukaan saya terhadap cerita-cerita metropop--konflik dalam kisah-kisahnya, kehidupan masyarakat perkotaan yang diulas dengan baik, dan narasinya yang mengalir dan kocak selalu berhasil membuat saya tertarik.

    Romansick adalah novel serupa. Membacan

    Terakhir kali saya membaca novel metropop adalah lebih dari setahun yang lalu, dan seringkali, saya menyesal karena tidak membeli lebih banyak lagi buku-buku dengan kategori genre tersebut. Mungkin fakta bahwa saya rada

    turut berpartisipasi pada kesukaan saya terhadap cerita-cerita metropop--konflik dalam kisah-kisahnya, kehidupan masyarakat perkotaan yang diulas dengan baik, dan narasinya yang mengalir dan kocak selalu berhasil membuat saya tertarik.

    Romansick adalah novel serupa. Membacanya, saya nggak menyangka ini adalah novel pertama penulisnya. Penggambaran kehidupan dunia sosialitanya, penokohannya, latarnya, dan suka-duka karir

    di dalamnya dituliskan dengan sangat baik. Kisah cinta yang menjadi pusat buku ini--seorang wanita muda yang jatuh cinta pada sahabatnya, tapi ternyata sahabatnya itu sudah mau menikah dengan cewek lain, dan malah ada cowok

    yang PDKT dengannya--bisa dibilang kocak-kocak sangar. Saya bukan pembaca romans yang baik, tapi ada beberapa poin di dalam kisah mereka yang membuat saya terkejut. Hal-hal sederhana seperti cinta antar sahabat, unsur karir dan pribadi dalam personal wanita, digambarkan dengan mendetil.

    Satu-satunya kekurangannya (dan kekurangan banyak novel metropop lainnya yang, sejujurnya, membuat saya jarang beli) adalah penggunaan Bahasa Inggris yang menyelip-nyelip di antara Bahasa Indonesia. Memang sih, dalam beberapa bagian memang cocok, tapi banyak yang tidak. Belum lagi, typo dan kesalahan dalam

    juga cukup banyak dan mengganggu kenyamanan membaca.

    TL;DR, 4.5/5.0. Bulatkan ke 5.0 :) Ulasan lengkap bisa dibaca di sini:

  • Jenny Faurine

    Suka sama ceritanya. Gaya bercerita yang mengalir lancar dan karakternya yang bikin jatuh cinta adalah dua hal yang bikin gue nggak rela kalau buku ini selesai.

    Ada beberapa hal yang memang masih agak kurang sih. Kayak, kehadiran Ayuna yang cuma sebatas omongan antara mereka aja (nggak pernah muncul secara fisik gitu).

    Gue kira bakal ada konflik berarti antara Eren-Audrey-Austin, tapi ternyata nggak ada.

    But, it's okay lah.

    Untungnya, gue juga fine-fine aja sama novel yang sebagian besar dialogny

    Suka sama ceritanya. Gaya bercerita yang mengalir lancar dan karakternya yang bikin jatuh cinta adalah dua hal yang bikin gue nggak rela kalau buku ini selesai.

    Ada beberapa hal yang memang masih agak kurang sih. Kayak, kehadiran Ayuna yang cuma sebatas omongan antara mereka aja (nggak pernah muncul secara fisik gitu).

    Gue kira bakal ada konflik berarti antara Eren-Audrey-Austin, tapi ternyata nggak ada.

    But, it's okay lah.

    Untungnya, gue juga fine-fine aja sama novel yang sebagian besar dialognya campur-campur.

    Karakter yang paling gue suka:

    1. Tara

    2. Austin

    3. Tara (lagi)

    4. Tara (lagi! lagi! lagi!) #heh

    5. Dre

    Intinya, gue nunggu karya Kak Emilya selanjutnya. Ditunggu banget. Semoga lebih baik dari Romansick~

    (dan semoga ada cerita Tara)

    (ini kode)

    (oke, harus disudahi)

  • Ardina Rahma

    metropop banget, jelas. gaya bahasanya asyik banget dan lincah. ku suka :)

  • Dion Sagirang

    3,5 yang saya bulatkan ke bawah. Sangat subjektif, saya tidak suka novel yang berceceran bahasa asing di dalamnya, dan di sini, saya menemukan banyak tentu saja, sekaligus tatabahasa Inggris-nya yang banyak salah.

    Sebenarnya, secara teknis novel ini akan sempurna seandainya ada proof terakhir. Ada typo, tapi tidak banyak. Yang sering malah pemenggalan kata yang, ya, tidak tepat dan cuma perlu poofreading sekali lagi.

    Dari segi cerita, saya suka. Gayanya sendiri lincah, dan kemudian berharap ditamb

    3,5 yang saya bulatkan ke bawah. Sangat subjektif, saya tidak suka novel yang berceceran bahasa asing di dalamnya, dan di sini, saya menemukan banyak tentu saja, sekaligus tatabahasa Inggris-nya yang banyak salah.

    Sebenarnya, secara teknis novel ini akan sempurna seandainya ada proof terakhir. Ada typo, tapi tidak banyak. Yang sering malah pemenggalan kata yang, ya, tidak tepat dan cuma perlu poofreading sekali lagi.

    Dari segi cerita, saya suka. Gayanya sendiri lincah, dan kemudian berharap ditambah adegan komedi. Hanya saja, penulis kurang menggali chemistry antara Dre dan Austin, Dre dan Eren pun begitu. Malah, saya lebih suka interaksi Dre dan Tara. Mereka bersahabat dengan manis. Dan terakhir, penulis kurang berhasil menggiring pembaca, memberikan alasan-alasan kenapa pada akhirnya Dre memilih si second male.

  • Nina Ardianti

    Overall, okay. Memang yang namanya romance, ceritanya pasti akan klise. Justru perjalanan dari sepasang tokoh utamanya yang lebih penting. Seandainya penulis memperbanyak interaksi dan proses bonding antara hero dan heroine-nya, maka sepertinya akan menjadi lebih menarik.

    Satu yang jadi perhatian saya, sayang banget terlalu banyak grammar yang salah. Mungkin ke depannya penulis, proofreader, dan editor perlu berhati-hati. Sekali dua kali salah masih nggak apa-apa, tapi sayangnya kesalahan gramma

    Overall, okay. Memang yang namanya romance, ceritanya pasti akan klise. Justru perjalanan dari sepasang tokoh utamanya yang lebih penting. Seandainya penulis memperbanyak interaksi dan proses bonding antara hero dan heroine-nya, maka sepertinya akan menjadi lebih menarik.

    Satu yang jadi perhatian saya, sayang banget terlalu banyak grammar yang salah. Mungkin ke depannya penulis, proofreader, dan editor perlu berhati-hati. Sekali dua kali salah masih nggak apa-apa, tapi sayangnya kesalahan grammar dan subject-verb agreement mendominasi kalimat dan percakapan yang banyak dilakukan dalam bahasa Inggris dan jatuhnya jadi mengganggu kenikmatan membaca.

    Plus-plusnya, judulnya catchy banget. Menarik :))

  • Anastasia Cynthia

    Semuanya serba-sempurna bagi Audrey ‘Dre’ Kahono; karier sebagai seorang executive editor di majalah terkenal; rekan kerja yang baik; serta berjalan ke mall diiringi dua bodyguard alias sahabat superkeren. Tara, cowok paling eligible di ibukota yang sering mematahkan hati para wanita, satu lagi, Eren, si tumpul yang kerap kali bikin Dre panas dingin sampai memaki-maki dalam hati.

    Perkara Dr

    Semuanya serba-sempurna bagi Audrey ‘Dre’ Kahono; karier sebagai seorang executive editor di majalah terkenal; rekan kerja yang baik; serta berjalan ke mall diiringi dua bodyguard alias sahabat superkeren. Tara, cowok paling eligible di ibukota yang sering mematahkan hati para wanita, satu lagi, Eren, si tumpul yang kerap kali bikin Dre panas dingin sampai memaki-maki dalam hati.

    Perkara Dre, bagi Eren adalah sekadar sahabat dari SMA, tapi Dre tentang Eren jelas berbeda. Perasaannya pada Eren bukan lagi sahabat terlampau akrab, ia jatuh cinta, pada sahabatnya sendiri. Sayangnya, Eren si Tumpul yang kepalang lurus, malah mengungkapkan perasaan sesungguhnya untuk Ayuna, matan pacarnya yang menetap di New York. Tidak ada lagi kata pengunduran, pun menanti, Eren akan lepas landas dalam hitungan minggu untuk melamar perempuan itu.

    Dre ciut. Pesta soft opening Castello yang digelar Tara berubah menjadi bencana. Dre nyaris kehabisan napas. Ia tak sanggup mendengar pengakuan sinting itu lebih panjang. Bibirnya baru saja hendak melontarkan sejagat keberanian tentang perasaannya kepada Eren, namun sekonyong-konyong kepalanya berputar, asmanya baru saja kambuh, ia perlu lebih banyak udara. Langkah jenjang Dre ambil sempat membuatnya oleng, menerobos kerumunan orang, tangannya menjenggut sesosok yang dianggapnya sebagai Tara.

    Inhaler baru saja ia hirup sekuat tenaga. Napasnya teratur. Namun, suara yang bertanya bukanlah suara yang ia kenal sebagai Tara. Sial!

    Cairan merah mengucur dari hidung pria asing di hadapannya.

    Klasik tapi

    , dua kata dari saya untuk merangkum “Romansick”, novel debut dari Emilya Kusnaidi. Di novel pertamanya, kentara kalau Emilya Kusnaidi tidak ambil banyak risiko; ia mengambil sebuah ide yang klise sebagai konflik utama—yang sudah pasti disukai oleh banyak pembaca dewasa muda. Well, mungkin terasa ringan dari segi ide, tapi dari segi gaya berceritanya: LUAR BIASA. Saya rasa, Emilya memang sengaja membuat “Romansick” sebagai bacaan ringan yang asyik untuk dibaca dalam beberapa jam.

    Baca selengkapnya di:

  • Just_denok

    Sayangnya bagian Eren kurang dramatis. Padahal, saat Eren melihat Dre sedang lunch di Union bersama Austin, dan menyinggung tentang membahayakan posisi, ku pikir akan drama yg lebih dalam bagi Eren mengenai Dre. Sayangnya ternyata nggak ada :(.

    Tapi okelah, aku suka cerita2 model begini. Cinta di dalam persahabatan memang nggk ada matinya. Dengan ending yang bermacam2 pula. Cara bercerita Penulis pun, aku suka.

  • Daniel

    Romansick

    Gramedia Pustaka Utama

    276 halaman

    6.2

    Saya biasanya menghindari buku-buku yang bertaburan banyak merek, seperti orang Yahudi yang menghindari orang kusta yang teriak, "Najis, najis!" di perjanjian baru. Ini sebenarnya hanya karena saya anaknya punya

    yang sangat jongkok dan membaca merek-merek yang bahkan saya tidak tahu bagaimana

    -nya itu bikin

    saya makin minus. Tapi saya pernah membaca cerita pendek Kusnaidi (

    , maaf sebelumnya k

    Romansick

    Gramedia Pustaka Utama

    276 halaman

    6.2

    Saya biasanya menghindari buku-buku yang bertaburan banyak merek, seperti orang Yahudi yang menghindari orang kusta yang teriak, "Najis, najis!" di perjanjian baru. Ini sebenarnya hanya karena saya anaknya punya

    yang sangat jongkok dan membaca merek-merek yang bahkan saya tidak tahu bagaimana

    -nya itu bikin

    saya makin minus. Tapi saya pernah membaca cerita pendek Kusnaidi (

    , maaf sebelumnya karena entah kenapa saya akhir-akhir suka menyebut nama orang dengan nama belakangnya dan kebiasaan ini menempel begitu saja seperti lem superadesif) di

    . Tulisannya

    , sendu, dan

    sesuai dengan gaya cerita yang saya nikmati dan saya mesti jujur kalau saya agak lumayan tertarik buat membaca Romansick, induk dari cerita pendek di Kata Kota Kita.

    Keluhan yang sama dari beberapa buku metropop yang pernah saya baca adalah bertaburan merek-merek dan kalimat-kalimat Inggris yang sebetulnya bisa diindonesiakan

    . Entahlah. Mungkin saya yang terlalu gembel untuk menikmati metropop, tetapi saya terkadang merasa cerita-cerita metropop terasa sangat formulaik. Sewaktu saya membaca metropop punya kakak saya kira-kira enam sampai tujuh tahun yang lalu sewaktu saya masih SMP dan awal SMA (

    ), saya enggak terlalu ambil pusing dengan keformulaikan yang ada. Tapi lama-lama saya mikir, orang Jakarta emang konflik kehidupannya begini-begini aja yah. Mungkin saya mengharapkan sesuatu yang

    , misalnya seorang eksekutif muda Jakarta yang mesti memimpin sekelompok pesintas dari serbuan invasi alien atau apalah.

    . Mungkin terakhir kali saya menikmati metropop adalah sewaktu saya membaca

    . Itu juga saya lupa ceritanya soal apa wkwk, tapi kalau membaca

    saya, sepertinya ceritanya bagus.

    Romansick sebetulnya tidak terlalu buruk. Kusnaidi jelas pandai mengolah kalimat-kalimat dan sudut pandang orang ketiga yang digunakan terasa luwes, tidak seperti kameramen yang masih amatir. Transisi skena (wkwk, kita harus bikin petisi buat masukin skena ke KBBI) dalam Romansick lumayan mulus. Jalan ceritanya juga sebetulnya lancar. Namun, Romansick ini entah kenapa terasa hampa. Saya merasa adegan-adegan yang ada di buku ini terasa

    dan

    . Entah kenapa saya enggak ngerasa ada jiwa di tiap kalimat-kalimat yang Kusnaidi tulis, tapi saya tahu setiap penulis menyelipkan jiwa di setiap tulisannya, seperti

    , jadi saya tahu saya yang salah. Ini termasuk buku

    karena kalau dilihat secara sekilas Romansick ini seharusnya tidak bermasalah. Tapi mungkin entah karena saya habis membaca

    yang berhasil mengaduk-aduk perasaan saya dengan premis yang sederhana, saya mungkin masih

    dan membaca Romansick membuat

    saya jadi lumayan kabur. Mungkin juga saya mengharap lebih, tetapi sejujurnya saya lelah mendengar cerita soal cerita cinta yang tak bersambut sebelum akhirnya ia menemukan cinta yang sejati wkwk hasik.

    Yang saya suka dari Romansick adalah humor-humor urban yang dicelotehkan oleh Kelsa dan Germaine. Aneh tapi nyata, saya kadang suka salut dengan orang-orang

    yang selera humornya seperti berasal dari dunia lain, tetapi saya suka ketawa kalau dengar lelucon orang-orang

    .

    . Bukan karena saya

    . Humor saya lebih ke humor-humor sok-sokan bego. Loh kok malah curhat.

    Orang-orang sudah menyebutkan soal kesalahan

    dan salah tik, yang enggak akan saya bahas lagi karena bakalan membuat

    saya enggak spesial. Tapi satu hal lagi yang membuat Romansick ini menyenangkan sebenernya karena ada soal Singapura-nya. Saya punya banyak pengalaman buruk di Singapura, tetapi saya juga punya banyak pengalaman menyenangkan selama tinggal di sana, dan saya enggak akan pernah menyangka saya akan punya

    dengan negara kecil ini. Dan membaca Austin yang pernah tinggal di Ang Mo Kio mau enggak mau bikin kepala saya mengenang jalanan Singapura yang teratur, udaranya yang panas tapi anehnya bersih, orang-orang yang berjalan cepat, kereta MRT yang masih ramai hingga jam dua belas malam.

    Mungkin itu yang membuat Romansick lumayan berkesan buat orang-orang. Mungkin ada orang di luar sana yang pernah memendam rasa ke sahabatnya hingga sampai saat ini, tetapi masih belum punya keberanian untuk mengutarakannya. Mungkin ada orang di luar sana yang pernah begitu merindukan orang yang dicintainya sampai rasanya sakit. Mungkin buku ini membuat orang di luar sana mengenang kisah cinta mereka.

    Review ini juga bisa dibaca di

  • Speakercoret

    #gdigital

    sebenarnya punya buku fisiknya, tp krena baru pengen bacanya sekarang, sdangkan bukunya di balikpapan ya sudahlah baca via GD aja...

  • Anidos

    I've read the nays from the reviews before finally deciding to hit this one, so I should've warned myself. I did warn myself actually, but 'Sparks' in

    was just so good I was more than willing to read the longer version of it.

    So now here I am, feeling disappointed and cheated.

    First, basic grammar mistakes were so many that they bugged me a lot--even in Indonesian. Second, it's actually a matter of taste, but I don't quite like a read which 'Gucci this, Armani that' kinda thing. An

    I've read the nays from the reviews before finally deciding to hit this one, so I should've warned myself. I did warn myself actually, but 'Sparks' in

    was just so good I was more than willing to read the longer version of it.

    So now here I am, feeling disappointed and cheated.

    First, basic grammar mistakes were so many that they bugged me a lot--even in Indonesian. Second, it's actually a matter of taste, but I don't quite like a read which 'Gucci this, Armani that' kinda thing. And too many

    involved, don't you think? Third, I found anachronism within. Fourth, the font is smaller than usual, isn't it? It's tiresome.

    Still, few things to cherish are around.

    First, unlike the Kumcer and Young Adult, Metropop's bookmark has decent size. Second, Austin--a man to fall for in romance is a MUST--and here he's my litcrush. Third, this quote:

    "It's the hardest shit ever. Telling someone how you really feel."

    Two stars because I couldn't say that I like it and, in the end,

    .

WISE BOOK is in no way intended to support illegal activity. Use it at your risk. We uses Search API to find books/manuals but doesn´t host any files. All document files are the property of their respective owners. Please respect the publisher and the author for their copyrighted creations. If you find documents that should not be here please report them


©2018 WISE BOOK - All rights reserved.