Romansick

Romansick

Her life was almost perfect. Pekerjaan sebagai editor di majalah fashion ternama, rekan kerja yang baik hati meskipun doyan gosip, serta dua sahabat cowok yang selalu ada ketika dibutuhkan. So what a girl could ask for more? Well, please underline the ‘almost’ part.Audrey ‘Dre’ Kahono jatuh cinta setengah mati dengan Eren,sahabatnya––namun nggak pernah punya keberanian unt...

DownloadRead Online
Title:Romansick
Author:Emilya Kusnaidi
Rating:
Edition Language:Indonesian

Romansick Reviews

  • Jenny Faurine

    Suka sama ceritanya. Gaya bercerita yang mengalir lancar dan karakternya yang bikin jatuh cinta adalah dua hal yang bikin gue nggak rela kalau buku ini selesai.

    Ada beberapa hal yang memang masih agak kurang sih. Kayak, kehadiran Ayuna yang cuma sebatas omongan antara mereka aja (nggak pernah muncul secara fisik gitu).

    Gue kira bakal ada konflik berarti antara Eren-Audrey-Austin, tapi ternyata nggak ada.

    But, it's okay lah.

    Untungnya, gue juga fine-fine aja sama novel yang sebagian besar dialogny

    Suka sama ceritanya. Gaya bercerita yang mengalir lancar dan karakternya yang bikin jatuh cinta adalah dua hal yang bikin gue nggak rela kalau buku ini selesai.

    Ada beberapa hal yang memang masih agak kurang sih. Kayak, kehadiran Ayuna yang cuma sebatas omongan antara mereka aja (nggak pernah muncul secara fisik gitu).

    Gue kira bakal ada konflik berarti antara Eren-Audrey-Austin, tapi ternyata nggak ada.

    But, it's okay lah.

    Untungnya, gue juga fine-fine aja sama novel yang sebagian besar dialognya campur-campur.

    Karakter yang paling gue suka:

    1. Tara

    2. Austin

    3. Tara (lagi)

    4. Tara (lagi! lagi! lagi!) #heh

    5. Dre

    Intinya, gue nunggu karya Kak Emilya selanjutnya. Ditunggu banget. Semoga lebih baik dari Romansick~

    (dan semoga ada cerita Tara)

    (ini kode)

    (oke, harus disudahi)

  • Dion Sagirang

    3,5 yang saya bulatkan ke bawah. Sangat subjektif, saya tidak suka novel yang berceceran bahasa asing di dalamnya, dan di sini, saya menemukan banyak tentu saja, sekaligus tatabahasa Inggris-nya yang banyak salah.

    Sebenarnya, secara teknis novel ini akan sempurna seandainya ada proof terakhir. Ada typo, tapi tidak banyak. Yang sering malah pemenggalan kata yang, ya, tidak tepat dan cuma perlu poofreading sekali lagi.

    Dari segi cerita, saya suka. Gayanya sendiri lincah, dan kemudian berharap ditamb

    3,5 yang saya bulatkan ke bawah. Sangat subjektif, saya tidak suka novel yang berceceran bahasa asing di dalamnya, dan di sini, saya menemukan banyak tentu saja, sekaligus tatabahasa Inggris-nya yang banyak salah.

    Sebenarnya, secara teknis novel ini akan sempurna seandainya ada proof terakhir. Ada typo, tapi tidak banyak. Yang sering malah pemenggalan kata yang, ya, tidak tepat dan cuma perlu poofreading sekali lagi.

    Dari segi cerita, saya suka. Gayanya sendiri lincah, dan kemudian berharap ditambah adegan komedi. Hanya saja, penulis kurang menggali chemistry antara Dre dan Austin, Dre dan Eren pun begitu. Malah, saya lebih suka interaksi Dre dan Tara. Mereka bersahabat dengan manis. Dan terakhir, penulis kurang berhasil menggiring pembaca, memberikan alasan-alasan kenapa pada akhirnya Dre memilih si second male.

  • Nina Ardianti

    Overall, okay. Memang yang namanya romance, ceritanya pasti akan klise. Justru perjalanan dari sepasang tokoh utamanya yang lebih penting. Seandainya penulis memperbanyak interaksi dan proses bonding antara hero dan heroine-nya, maka sepertinya akan menjadi lebih menarik.

    Satu yang jadi perhatian saya, sayang banget terlalu banyak grammar yang salah. Mungkin ke depannya penulis, proofreader, dan editor perlu berhati-hati. Sekali dua kali salah masih nggak apa-apa, tapi sayangnya kesalahan gramma

    Overall, okay. Memang yang namanya romance, ceritanya pasti akan klise. Justru perjalanan dari sepasang tokoh utamanya yang lebih penting. Seandainya penulis memperbanyak interaksi dan proses bonding antara hero dan heroine-nya, maka sepertinya akan menjadi lebih menarik.

    Satu yang jadi perhatian saya, sayang banget terlalu banyak grammar yang salah. Mungkin ke depannya penulis, proofreader, dan editor perlu berhati-hati. Sekali dua kali salah masih nggak apa-apa, tapi sayangnya kesalahan grammar dan subject-verb agreement mendominasi kalimat dan percakapan yang banyak dilakukan dalam bahasa Inggris dan jatuhnya jadi mengganggu kenikmatan membaca.

    Plus-plusnya, judulnya catchy banget. Menarik :))

  • Daniel

    Romansick

    Gramedia Pustaka Utama

    276 halaman

    6.2

    Saya biasanya menghindari buku-buku yang bertaburan banyak merek, seperti orang Yahudi yang menghindari orang kusta yang teriak, "Najis, najis!" di perjanjian baru. Ini sebenarnya hanya karena saya anaknya punya

    yang sangat jongkok dan membaca merek-merek yang bahkan saya tidak tahu bagaimana

    -nya itu bikin

    saya makin minus. Tapi saya pernah membaca cerita pendek Kusnaidi (

    , maaf sebelumnya k

    Romansick

    Gramedia Pustaka Utama

    276 halaman

    6.2

    Saya biasanya menghindari buku-buku yang bertaburan banyak merek, seperti orang Yahudi yang menghindari orang kusta yang teriak, "Najis, najis!" di perjanjian baru. Ini sebenarnya hanya karena saya anaknya punya

    yang sangat jongkok dan membaca merek-merek yang bahkan saya tidak tahu bagaimana

    -nya itu bikin

    saya makin minus. Tapi saya pernah membaca cerita pendek Kusnaidi (

    , maaf sebelumnya karena entah kenapa saya akhir-akhir suka menyebut nama orang dengan nama belakangnya dan kebiasaan ini menempel begitu saja seperti lem superadesif) di

    . Tulisannya

    , sendu, dan

    sesuai dengan gaya cerita yang saya nikmati dan saya mesti jujur kalau saya agak lumayan tertarik buat membaca Romansick, induk dari cerita pendek di Kata Kota Kita.

    Keluhan yang sama dari beberapa buku metropop yang pernah saya baca adalah bertaburan merek-merek dan kalimat-kalimat Inggris yang sebetulnya bisa diindonesiakan

    . Entahlah. Mungkin saya yang terlalu gembel untuk menikmati metropop, tetapi saya terkadang merasa cerita-cerita metropop terasa sangat formulaik. Sewaktu saya membaca metropop punya kakak saya kira-kira enam sampai tujuh tahun yang lalu sewaktu saya masih SMP dan awal SMA (

    ), saya enggak terlalu ambil pusing dengan keformulaikan yang ada. Tapi lama-lama saya mikir, orang Jakarta emang konflik kehidupannya begini-begini aja yah. Mungkin saya mengharapkan sesuatu yang

    , misalnya seorang eksekutif muda Jakarta yang mesti memimpin sekelompok pesintas dari serbuan invasi alien atau apalah.

    . Mungkin terakhir kali saya menikmati metropop adalah sewaktu saya membaca

    . Itu juga saya lupa ceritanya soal apa wkwk, tapi kalau membaca

    saya, sepertinya ceritanya bagus.

    Romansick sebetulnya tidak terlalu buruk. Kusnaidi jelas pandai mengolah kalimat-kalimat dan sudut pandang orang ketiga yang digunakan terasa luwes, tidak seperti kameramen yang masih amatir. Transisi skena (wkwk, kita harus bikin petisi buat masukin skena ke KBBI) dalam Romansick lumayan mulus. Jalan ceritanya juga sebetulnya lancar. Namun, Romansick ini entah kenapa terasa hampa. Saya merasa adegan-adegan yang ada di buku ini terasa

    dan

    . Entah kenapa saya enggak ngerasa ada jiwa di tiap kalimat-kalimat yang Kusnaidi tulis, tapi saya tahu setiap penulis menyelipkan jiwa di setiap tulisannya, seperti

    , jadi saya tahu saya yang salah. Ini termasuk buku

    karena kalau dilihat secara sekilas Romansick ini seharusnya tidak bermasalah. Tapi mungkin entah karena saya habis membaca

    yang berhasil mengaduk-aduk perasaan saya dengan premis yang sederhana, saya mungkin masih

    dan membaca Romansick membuat

    saya jadi lumayan kabur. Mungkin juga saya mengharap lebih, tetapi sejujurnya saya lelah mendengar cerita soal cerita cinta yang tak bersambut sebelum akhirnya ia menemukan cinta yang sejati wkwk hasik.

    Yang saya suka dari Romansick adalah humor-humor urban yang dicelotehkan oleh Kelsa dan Germaine. Aneh tapi nyata, saya kadang suka salut dengan orang-orang

    yang selera humornya seperti berasal dari dunia lain, tetapi saya suka ketawa kalau dengar lelucon orang-orang

    .

    . Bukan karena saya

    . Humor saya lebih ke humor-humor sok-sokan bego. Loh kok malah curhat.

    Orang-orang sudah menyebutkan soal kesalahan

    dan salah tik, yang enggak akan saya bahas lagi karena bakalan membuat

    saya enggak spesial. Tapi satu hal lagi yang membuat Romansick ini menyenangkan sebenernya karena ada soal Singapura-nya. Saya punya banyak pengalaman buruk di Singapura, tetapi saya juga punya banyak pengalaman menyenangkan selama tinggal di sana, dan saya enggak akan pernah menyangka saya akan punya

    dengan negara kecil ini. Dan membaca Austin yang pernah tinggal di Ang Mo Kio mau enggak mau bikin kepala saya mengenang jalanan Singapura yang teratur, udaranya yang panas tapi anehnya bersih, orang-orang yang berjalan cepat, kereta MRT yang masih ramai hingga jam dua belas malam.

    Mungkin itu yang membuat Romansick lumayan berkesan buat orang-orang. Mungkin ada orang di luar sana yang pernah memendam rasa ke sahabatnya hingga sampai saat ini, tetapi masih belum punya keberanian untuk mengutarakannya. Mungkin ada orang di luar sana yang pernah begitu merindukan orang yang dicintainya sampai rasanya sakit. Mungkin buku ini membuat orang di luar sana mengenang kisah cinta mereka.

    Review ini juga bisa dibaca di

  • Anidos

    I've read the nays from the reviews before finally deciding to hit this one, so I should've warned myself. I did warn myself actually, but 'Sparks' in

    was just so good I was more than willing to read the longer version of it.

    So now here I am, feeling disappointed and cheated.

    First, basic grammar mistakes were so many that they bugged me a lot--even in Indonesian. Second, it's actually a matter of taste, but I don't quite like a read which 'Gucci this, Armani that' kinda thing. An

    I've read the nays from the reviews before finally deciding to hit this one, so I should've warned myself. I did warn myself actually, but 'Sparks' in

    was just so good I was more than willing to read the longer version of it.

    So now here I am, feeling disappointed and cheated.

    First, basic grammar mistakes were so many that they bugged me a lot--even in Indonesian. Second, it's actually a matter of taste, but I don't quite like a read which 'Gucci this, Armani that' kinda thing. And too many

    involved, don't you think? Third, I found anachronism within. Fourth, the font is smaller than usual, isn't it? It's tiresome.

    Still, few things to cherish are around.

    First, unlike the Kumcer and Young Adult, Metropop's bookmark has decent size. Second, Austin--a man to fall for in romance is a MUST--and here he's my litcrush. Third, this quote:

    "It's the hardest shit ever. Telling someone how you really feel."

    Two stars because I couldn't say that I like it and, in the end,

    .

WISE BOOK is in no way intended to support illegal activity. Use it at your risk. We uses Search API to find books/manuals but doesn´t host any files. All document files are the property of their respective owners. Please respect the publisher and the author for their copyrighted creations. If you find documents that should not be here please report them


©2018 WISE BOOK - All rights reserved.